096: Saudari di Tempat yang Tak Pernah Tutup
"Filantrop pasti harus punya uang, kan?" kata Liu Yuanbin.
"Ya... Tapi, impian orang itu jelas berada di tingkat yang berbeda denganmu," ujar Ketua Kelas Chen Qichao. Tatapannya padaku juga tampak sedikit berubah, seolah-olah meniliku dengan cara baru.
Aku tersenyum lalu berkata, "Sebenarnya, itu hanya sekadar mimpi. Menjalankan kegiatan filantropi itu butuh uang, juga butuh pengaruh di masyarakat. Kedengarannya bagus, tapi sebenarnya sangat sulit."
"Itu mimpi yang bagus. Nah, siapa lagi yang punya mimpi berbeda?" tanya Chen Qichao sambil menoleh.
Yang lain mulai menceritakan mimpi mereka masing-masing.
Sementara aku masih memikirkan mimpiku sendiri.
Mimpi itu, kalau dipikirkan, memang muncul secara tiba-tiba. Sebelumnya aku sama sekali tak pernah serius memikirkannya.
Namun, saat itu, mimpi itu benar-benar menancap dalam-dalam di hatiku. Tapi, tak ada yang menyangka, dari seluruh mimpi yang pernah kami ceritakan di ruang kegiatan waktu itu, hanya aku yang berhasil mewujudkannya.
Li Tao yang dulu ingin menjadi pelawak akhirnya bekerja di pembangkit listrik;
Liu Yuanbin yang ingin kaya raya, akhirnya jadi tentara, menjaga perbatasan negeri;
Gadis yang dulu bercita-cita memelihara binatang, akhirnya meneruskan usaha ayahnya di bidang kulit;
Sedangkan Chen Qichao yang ingin menjadi ahli astronomi, nasibnya malah lebih aneh lagi...
Tentu saja, meski kini aku bergerak di bidang filantropi dan punya pengaruh sosial tertentu, mereka tetap tidak pernah menganggapku sebagai seorang filantropis.
Sebaliknya, di mata mereka, aku justru adalah sosok yang sangat jauh dari kata dermawan.
***
Malam itu, setelah obrolan tentang mimpi, Chen Qichao kembali memberikan motivasi. Saling menyemangati antar teman kadang terasa lebih nyata daripada dorongan dari guru.
Setelah itu, kami mulai saling membantu secara khusus dan terarah, lalu serius belajar.
...
Jam setengah sepuluh, setelah jam belajar mandiri selesai, aku segera berkemas dan pergi ke restoran Tak Pernah Tutup.
Saat tiba di sana, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Begitu masuk, kehangatan restoran mengusir semua hawa dingin dari tubuhku.
Aku menoleh dan melihat di sudut ruangan, Su Qing dan Su Yan sedang duduk sambil minum. Namun, keduanya diam saja, suasana tampak agak canggung.
Ketika aku mendekat, kulihat Su Yan sedang sibuk mengetik pesan di ponselnya, sementara Su Qing hanya menatap kosong ke arah gelas di depannya dengan raut wajah sedih. Bahkan, mereka tak menyadari kehadiranku.
"Kamu datang?" Su Yan meletakkan ponselnya dan menatapku.
"Ya..." Aku melepas jaket, duduk, lalu menoleh ke arah Su Qing.
Ia mengangkat kepala, tersenyum tipis padaku dan bertanya, "Bagaimana jam belajar malamnya?"
"Hehe, sudah lama tidak ikut jam malam, jadi hari ini agak canggung juga. Kalian sudah minum berapa gelas? Jangan kebanyakan, ya?" ucapku sambil menuangkan teh ke cangkirku.
"Kenapa nggak minum alkohol?" tanya Su Yan heran.
"Aku masih harus belajar. Sebentar lagi ujian akhir semester," jawabku sambil tertawa, mengangkat cangkir teh, dan bersulang dengannya sebagai pengganti alkohol.
Sesuai rencana yang sudah kubicarakan dengan Su Qing sebelumnya, setelah bersulang, aku pun bertanya soal hasil pemeriksaan kesehatannya.
"Tidak minum alkohol, apa asyiknya? Satu gelas saja," kata Su Yan sambil hendak menuangkan alkohol ke gelasku.
Aku menolak dengan halus, lalu menoleh ke arah Su Qing dan bertanya, "Kalian tadi jadi periksa kesehatan? Hasilnya gimana?"
Su Qing tersenyum tipis dan menjawab, "Nggak ada apa-apa."
Jantungku langsung berdebar. Kenapa jawabannya tidak seperti yang kuduga?
Bukankah seharusnya dia bilang kalau dia terkena penyakit itu?
"Benar nggak apa-apa?" aku menatapnya penuh arti.
Tatapannya balik menatapku, terlihat lebih tegas dari biasanya. Ia lalu tersenyum dan menoleh ke Su Yan, "Su Yan, ayo kembali sekolah, ya? Semuanya sudah aku urus, gimana?"
Su Yan pura-pura tidak mendengar, meneguk minumannya sambil menatap ke arah lain, sama sekali tak menunjukkan reaksi.
Su Qing menggenggam tangan adiknya, cemas, "Dengarkan kakak kali ini, ya? Biar kakak saja yang mengurus semuanya, kamu nggak boleh lagi."
"Jangan begitu," Su Yan menarik tangannya, lalu menenggak minumannya hingga habis dan meletakkan gelas dengan tegas, "Aku nggak mau sekolah. Itu sudah keputusan final."
"Kalau kamu nggak mau sekolah, kita berdua pisah saja..." tiba-tiba Su Qing berkata, tapi matanya penuh kesedihan.
Su Yan paling takut berpisah dengan kakaknya, sehingga langsung marah, "Kenapa? Atas dasar apa? Kenapa harus aku yang sekolah?"
"Aku cuma mau kamu sekolah!!" tiba-tiba Su Qing berteriak keras.
Itulah pertama kalinya aku melihat Su Qing dalam keadaan seperti itu. Biasanya ia sangat lembut, tapi kini ia tampak meledak layaknya serigala buas...
"Su Qing..." Aku menggenggam tangannya, mencoba menenangkannya.
Namun, ia masih menatap Su Yan dengan mata merah, lalu berkata dingin, "Kamu tahu apa mimpi terbesarku selama ini? Aku cuma ingin melihat kamu duduk di ruang kelas, kuliah, menikah, punya anak, seperti anak-anak lain... Itu mimpi terbesarku! Sejak orang tua kita meninggal, itulah tujuan yang selalu aku perjuangkan! Demi kamu, semuanya demi kamu..."
"Aku nggak perlu kamu berkorban untukku! Bisakah kamu memikirkan dirimu sendiri? Kamu selalu memikirkan aku, tapi kapan kamu pernah peduli pada dirimu sendiri? Aku bukan anak-anak lagi. Aku nggak sekolah, aku kerja seperti ini, justru supaya kamu tidak harus terus berkorban! Kamu selalu bilang demi aku, tapi pernahkah kamu memikirkan usiamu sendiri? Sudah seberapa tua kamu sekarang!? Kamu selalu bilang kamu mau ini itu, tapi pernahkah kamu tanya apa keinginanku? Kamu tahu apa yang paling aku harapkan darimu? Kak... bisakah kamu lebih baik pada dirimu sendiri?"
"Aku nggak apa-apa menanggung semua ini, aku cuma ingin kamu sekolah, sekolah, dan sekolah!!"
"Cukup! Kalau kamu nggak bahagia, aku juga nggak akan bahagia! Hatiku nggak tenang, gimana aku bisa belajar!? Kenapa aku kerja di klub malam? Aku cuma ingin merasakan penderitaan yang kamu alami! Selama ini kamu jadi kakak sekaligus ibu, kamu tahu betapa aku sakit hati melihatmu? Aku tahu semuanya demi aku, itu sebabnya aku makin sedih! Kalau kamu bisa tenang dan menikah dengan seseorang, aku akan langsung kembali sekolah! Tapi bisakah kamu lakukan itu? Hah!?" Su Yan berkata dengan mata memerah.
Setelah mendengar itu, Su Qing hanya terdiam, lalu tatapannya semakin kosong, hingga akhirnya ia menunduk dan menangis di atas meja.
"Su Qing?" Aku mendorongnya pelan, lalu menatap Su Yan yang di matanya terpancar keteguhan dan ketulusan yang membuatku terharu.
Su Qing terjun ke dunia malam demi Su Yan.
Dan Su Yan pun bekerja di dunia malam demi Su Qing.
Mereka saling mencintai, tapi juga saling membuat luka.
"Semuanya terlambat... sudah terlambat... hiks hiks hiks..." Su Qing menangis semakin keras.
Saat itu, aku tiba-tiba merasa firasat buruk.
"Su Qing, jangan-jangan kamu benar-benar..." Ucapanku terhenti, tak sanggup meneruskannya.
"Ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku?" Su Yan langsung panik, menoleh ke Su Qing dan berteriak, "Kak, jawab! Sebenarnya ada apa denganmu!?"
Su Qing perlahan mengangkat kepala, air mata membasahi wajahnya, lalu menatapku dan berkata, "Laki-laki itu... pejabat dari dinas pendidikan itu... Waktu aku periksa tadi, aku lihat dokter sedang menuliskan resep obat... obat untuk penyakit itu! Hiks..."
Begitu mendengarnya, kepalaku serasa meledak!
Tanganku tanpa sadar terlepas dari lengannya...
Seketika aku teringat bahwa penyakit itu tidak menular lewat sentuhan kulit, ketika aku hendak memegangnya lagi, tanganku justru terpaku di udara, ragu-ragu.
Bagaimana bisa...?
Bagaimana mungkin...?
Su Yan langsung menggenggam tanganku, menatapku penuh cemas dan takut, "Katakan, penyakit apa yang diderita kakakku!?"