Bab Lima Puluh Satu: Pendaftaran
"Toot..."
Suara terompet militer yang nyaring tiba-tiba meledak dari dalam barak, gaungnya membahana dan megah. Begitu didengar, suara itu secara samar menimbulkan semacam rasa bersemangat yang membakar darah. Reaksi orang-orang yang datang ke tempat itu berbeda-beda; para veteran umumnya tetap tenang, namun para peserta ujian yang baru pertama kali datang tampak jelas memendam kegembiraan di wajah mereka, bahkan ada yang gelisah tak karuan.
Hanya sebuah tiupan terompet saja sudah cukup untuk membedakan mereka secara nyata.
Tentu saja, tiga remaja, yakni Zheng Haotian dan dua rekannya, termasuk ke dalam kelompok yang bersemangat. Namun, berbeda dengan kebanyakan peserta ujian lainnya, hati mereka dipenuhi rasa percaya diri.
Zheng Haotian sendiri telah mencapai tingkatan Pemburu sejati, mampu mengendalikan dan melepaskan tenaga dalam untuk melukai lawan. Adapun Yu Weihua dan Lin Ting, keduanya juga telah berlatih seni bela diri sejak kecil; bertahun-tahun tekun berlatih telah membuat mereka berhasil membangkitkan tenaga dalam, hanya saja belum mampu melepaskannya ke luar tubuh. Kekuatan mereka jauh melebihi para pemburu dewasa pada umumnya.
Menurut Yu Jiansheng, bagi mereka bertiga, melewati ujian ini adalah perkara yang sangat mudah.
Melihat ketiganya yang tampak bersemangat, Yu Jiansheng tak kuasa menahan rasa kagumnya. Ketiga anak muda ini jauh lebih beruntung dibanding generasinya dahulu.
Dulu, Desa Lin Besar adalah salah satu desa termiskin di kaki Gunung Xionglang. Untungnya, leluhur keluarga Yu secara kebetulan pernah menolong leluhur keluarga Zheng. Setelah keluarga Zheng menetap di desa, keahlian tukang kayu keluarga Zheng membuat Desa Lin Besar perlahan menjadi makmur. Pada generasi ayah Yu Jiansheng, mereka memaksakan diri mengumpulkan uang untuk mengirim Yu Jiansheng dan Lin Baohua, paman Lin Ting, pergi berlatih bela diri.
Keduanya berusaha sekuat tenaga, tanpa pernah berani bermalas-malasan, dan akhirnya berhasil naik tingkat menjadi Pemburu setelah melewati usia dua puluh lima tahun.
Itu adalah berkat bakat sekaligus kerja keras mereka. Sayangnya, karena mereka memulai terlalu lambat, setelah mencapai tingkat Pemburu pemula, hampir tak ada lagi kemajuan berarti yang dapat diraih.
Namun, karena ia telah menjadi Pemburu, Yu Weihua dan Lin Ting dapat membangun dasar sejak kecil dan berlatih seni bela diri. Dengan bakat dan ketekunan mereka, kelak pasti akan melampaui dirinya.
Dengan demikian, dari generasi ke generasi, setiap generasi mengungguli yang sebelumnya. Siapa tahu, mungkin seratus tahun kemudian, keluarga Yu bisa saja melahirkan seorang Raja Pemburu.
"Braaang..."
Suara gong tiba-tiba terdengar, memutus lamunan Yu Jiansheng. Ia mengangkat kedua alisnya, dan baru menyadari ada seorang perwira militer yang, diiringi belasan prajurit, telah naik ke panggung tinggi.
Zheng Haotian dan kedua temannya segera mengenali pria itu sebagai Xu Jun, perwira yang pernah mengunjungi Desa Lin Besar tempo hari.
Barulah mereka sadar, tak heran Pengurus Cheng meminta mereka datang hari ini; rupanya, Xu Junlah yang menjadi penanggung jawab ujian kali ini.
Tatapan Xu Jun tajam bagai kilat, menyapu kerumunan di bawah panggung. Meski dikenal tamak, kemampuan bela dirinya tidaklah lemah, bahkan telah mencapai puncak Pemburu tingkat menengah. Tatapannya menyambar-nyambar, dan kecuali Yu Jiansheng serta segelintir orang, semua orang di bawah panggung menundukkan kepala, tak sanggup menatap balik.
Zheng Haotian sendiri tak gentar menghadapi tatapannya, namun ketika mata Xu Jun mengarah kepadanya, tiba-tiba saja kakinya terasa sakit. Ia menunduk, mendapati tumit Yu Jiansheng menginjak jari kakinya, bahkan sedikit menekan dan menggesek.
Zheng Haotian menahan sakit, mengerang pelan sambil menghisap napas dingin.
Setelah itu, Yu Jiansheng menarik kembali kakinya. Saat Zheng Haotian mengangkat kepala dengan mata berair, ia langsung menghindari tatapan Xu Jun yang sedang berkeliling.
Zheng Haotian hendak membuka mulut, namun tentu saja ia tak mungkin menyalahkan Yu Jiansheng atas kejadian ini, meski dalam hatinya penuh tanda tanya.
Yu Jiansheng berbisik pelan, "Barusan Xu Jun memusatkan tenaga dalam ke matanya. Hanya praktisi sejati yang mampu menatap balik padanya. Kalau bukan, tak akan sanggup menahan tatapannya. Kalau kau tidak menunduk, pasti akan ketahuan olehnya."
Barulah Zheng Haotian mengerti. Ia mencatat baik-baik nasihat itu, agar kelak tahu apa yang harus dilakukan jika mengalami hal serupa.
"Saudara-saudara sekalian, ujian Pemburu bulanan akan segera dimulai, dan kali ini aku sendiri yang akan memimpin pelaksanaan ujian," Xu Jun berbicara lantang, puas melihat reaksi kerumunan di bawah panggung. "Keahlian memanah, merancang jebakan, menyamar, melacak, kekuatan, kecepatan, pertarungan tangan kosong, dan duel senjata. Dari delapan jenis ujian ini, siapa pun yang lolos tiga di antaranya, akan mendapatkan tanda pengenal Pemburu."
Tarikan napas para peserta di bawah panggung terdengar semakin berat, terlebih para pemuda yang baru pertama kali mengikuti ujian Pemburu.
Xu Jun tersenyum tipis. "Kalian pasti sudah tahu keuntungan menjadi Pemburu. Jika bergabung dengan militer, masa depan kalian pasti cerah. Kalau tak ingin menjalani kerasnya kehidupan militer, kalian masih bisa mengabdi pada keluarga-keluarga besar, dan memperoleh kedudukan yang layak."
Ucapan Xu Jun membuat emosi para peserta semakin menghangat, bahkan mereka yang semula tampak acuh pun ikut terbawa suasana.
Setiap orang yang datang mengikuti ujian Pemburu memendam harapan yang sama. Kini, mendengar Xu Jun menguraikan masa depan indah setelah menjadi Pemburu, hati mereka pun tergugah.
Xu Jun mengangguk pelan, lalu tiba-tiba wajahnya berubah tegas dan ia berteriak, "Keuntungan menjadi Pemburu sudah kalian ketahui. Tapi, perlu kalian pahami, tidak semua orang bisa menjadi Pemburu. Kalian hanya diberi empat kesempatan. Kalau gagal, dalam setahun ke depan, jangan harap bisa mengikuti ujian lagi. Jadi, pertimbangkan baik-baik sebelum memutuskan."
Seketika suasana di bawah panggung menjadi senyap, wajah mereka yang tidak terlalu yakin tampak pucat pasi.
Ujian Pemburu memang dapat diikuti siapa saja yang telah berusia delapan belas tahun, namun dari delapan ujian yang ada, setiap kali hanya boleh memilih empat. Jika berhasil lolos tiga di antaranya, otomatis akan menjadi Pemburu. Tapi bila gagal di dua, kesempatan untuk mengikuti ujian akan hilang selama satu tahun.
Maka, bagi kebanyakan orang, untuk menjadi Pemburu tak hanya memerlukan kekuatan, namun juga keberuntungan.
Tentu saja, bagi orang seperti Zheng Haotian, ujian Pemburu bukanlah masalah sama sekali.
Sepanjang sejarah, belum pernah terjadi Pemburu tingkat tinggi mengikuti ujian Pemburu. Jika bukan karena khawatir menimbulkan kecurigaan dari Pengurus Cheng, Yu Jiansheng bahkan mungkin tak rela Zheng Haotian ikut ujian ini.
Xu Jun melambaikan tangannya, dan segera puluhan orang maju ke depan, mulai mencatat nama peserta dan membagikan kartu ujian di salah satu sudut barak.
Ujian Pemburu diadakan sebulan sekali, sehingga para prajurit di sini sudah sangat terbiasa. Segala sesuatunya berjalan teratur.
Di salah satu sudut lapangan terdapat puluhan meja, masing-masing dijaga oleh petugas khusus.
Begitu pendaftaran dimulai, orang-orang pun berbondong-bondong maju. Tak lama, di depan tiap meja telah mengular antrean panjang.
Yu Jiansheng memberi isyarat pada ketiga remaja itu, dan mereka pun berjalan bersama menuju salah satu antrean.
Antrean bergerak cukup cepat, dan setelah seperempat jam, tibalah giliran mereka bertiga.
Di balik meja, duduk seorang pria paruh baya berpakaian cendekiawan. Ia bertanya tanpa mengangkat kepala, "Nama, usia, asal."
"Yu Weihua, enam belas tahun, dari Desa Lin Besar."
Cendekiawan itu tertegun, berhenti menulis, mengangkat kepala dan menyipitkan mata menatap Yu Weihua, lalu berkata dingin, "Apa kau tidak tahu bahwa peserta ujian Pemburu harus berusia minimal delapan belas tahun?"
Di belakang Yu Weihua, terdengar bisik-bisik pelan, dan suara perbincangan itu semakin ramai. Bahkan, para peserta di meja lain ikut memperbincangkan hal itu.
Sesungguhnya, kasus peserta ujian yang belum berumur delapan belas tidaklah banyak, tapi juga bukan hal mustahil. Hanya saja, mereka yang mendaftar lebih awal biasanya sudah mendapat izin khusus, sedangkan sikap Yu Weihua yang langsung mendaftar seperti ini sangat jarang terjadi.
Xu Jun di atas panggung segera melihat kejadian itu. Ia tetap berdiri tegak, lalu berkata lantang, "Daftarkan saja mereka."
Cendekiawan di meja itu langsung menundukkan kepala, "Baik, Tuan."
Keributan di sekitar pun reda. Barulah orang-orang paham bahwa ternyata peserta itu telah mendapat restu dari penguji utama, pantas saja begitu berani.
Namun, semua orang diam-diam memperhatikan, ingin tahu bidang ujian apa yang akan diambil.
Cendekiawan itu menunduk, menuliskan nama, usia, dan asal Yu Weihua di secarik kertas, lalu bertanya, "Empat ujian apa yang ingin kamu ambil?"
Tanpa ragu, Yu Weihua menjawab, "Kekuatan, kecepatan, pertarungan tangan kosong, dan duel senjata."
Cendekiawan itu sekali lagi menatapnya dengan mata terbelalak. Begitu pula orang-orang di sekitarnya yang mendengar jawaban itu; semua memandangnya dengan waspada.
Dari delapan jenis ujian Pemburu, empat yang disebutkan jelas menguji kemampuan bertarung. Kepercayaan diri Yu Weihua menunjukkan betapa yakinnya dia atas kemampuan bertarungnya.
Apalagi ia baru berusia enam belas tahun, membuat orang-orang semakin waspada terhadapnya.
Cendekiawan itu menatapnya beberapa kali, lalu menuliskan empat pilihan itu di kertas dan menyerahkannya pada Yu Weihua.
Yu Weihua pun menepi, dan Lin Ting melangkah maju, berkata dengan suara mantap, "Lin Ting, lima belas tahun, dari Desa Lin Besar." Ia lalu menambahkan, "Saya ingin mengambil ujian memanah, jebakan, pelacakan, dan kecepatan."
Tatapan cendekiawan itu semakin aneh. Apa gerangan asal-usul Desa Lin Besar ini? Satu berusia enam belas, berikutnya malah lebih muda setahun. Tapi karena sudah ada perintah dari penguji utama, ia tak berani membantah, lalu segera menuliskan data Lin Ting.
Namun, ketika ia mengangkat kepala dan menyerahkan kertas pada Lin Ting, lalu melihat Zheng Haotian yang melangkah keluar dari barisan, keterkejutan di wajahnya tak lagi dapat ia sembunyikan.