Bab 120: Rugi
Keributan itu akhirnya mereda berkat bujuran para tetangga.
Lu Xiao Si dan Istri Ding Kedua baru menghabiskan setengah piring kuaci dan kacang, keduanya masih merasa kurang puas menonton keributan tersebut.
Ibu Ding menarik lengan Istri Ding Ketiga, mendengarkan keluh kesahnya tentang bagaimana dua adik iparnya menindasnya. Lengan bajunya tersingkap, memperlihatkan bekas memar kebiruan. Ia tidak menyadari bahwa beberapa memar itu justru ulah sang kakak ipar tertua yang diam-diam mencubitnya saat berpura-pura menenangkan.
Di sisi lain, Istri Ding Sulung yang sedang memapah Istri Ding Kelima harus pula mengawasi Istri Ding Keenam. Ia hanya bisa menoleh dengan pasrah ke arah adik iparnya yang berdiri di ruang tengah sambil mengunyah kuaci, memberi isyarat agar segera membantu.
Istri Ding Kedua menepuk-nepuk sisa kulit kuaci di pakaiannya, menghela napas panjang. Ia merasa sayang karena tidak bisa terus mengobrol dengan Lu Xiao Si, sebab ia harus membantu ibu mertua dan kakak iparnya membereskan kekacauan.
Istri Ding Kedua memapah Istri Ding Keenam yang sendirian ke kursi pendek. "Bibi Keenam, bagaimana ceritanya Bibi bisa bertemu dengan Bibi Kelima dan Bibi Ketiga hari ini?"
Jangan salah sangka, meski tubuh Istri Ding Keenam kecil dan garang saat berkelahi, bicaranya sering kali tidak dipikirkan masak-masak.
Mendengar pertanyaan keponakan iparnya, ia pun menceritakan bahwa pagi tadi saat pergi menyabit rumput babi di timur desa, ia melihat Kakak Ketiga dan istrinya membawa cucu tertua mereka pergi. Ia pun menebak mereka pasti hendak pergi ke rumah Kakak Sulung di kota.
Istri Ding Keenam berhubungan lebih baik dengan Istri Ding Kelima dibanding saudara ipar lainnya. Setelah kembali dan menceritakannya, keduanya sepakat untuk bergegas pergi ke kota.
Sebenarnya, kedatangan Kakak Ketiga dan istrinya ke kota tidak ada hubungannya dengan mereka. Namun masalahnya, pada pekan lalu, Kakak Ketiga baru saja pulang membawa potongan daging dari kota, sementara keluarga mereka bahkan tidak mencium baunya.
Sekarang, melihat Kakak Ketiga dan istrinya datang lagi, belum lagi apa yang mungkin diberikan Kakak Sulung dan istrinya untuk dibawa pulang, kedua ipar ini tentu tidak terima. Bahkan jika ingin mencari keuntungan, harus dilakukan bergantian agar adil. Tidak ada alasan bagi satu keluarga untuk terus-terusan datang. Bukankah itu jelas-jelas membuat dua keluarga lainnya rugi?
Istri Ding Keenam berbicara dengan penuh semangat hingga air liurnya ke mana-mana, membuat Ibu Ding hampir sesak napas karena marah.
Apa-apaan ini? Keluarganya dianggap sebagai daun kucai yang bisa dipotong kapan saja oleh siapa saja, bahkan harus giliran ganjil-genap. Tidak ada yang bertanya apakah si pemilik kucai bersedia atau tidak.
Setelah Istri Ding Keenam selesai bicara, Istri Ding Ketiga berhenti terisak dan dengan garang menunjuk adik iparnya itu. "Apa maksudmu kami mengambil daging pekan lalu dan kalian tidak kebagian? Keluarga kalian sudah mengambil daging dua pekan lalu, dan keluarga Kelima mengambilnya tiga pekan lalu di rumah Kakak Sulung, apa aku pernah mengeluh? Potongan daging yang kalian ambil kelihatannya lebih dari satu kati, milik keluarga Kelima juga sama, sementara milikku bahkan tidak sampai satu kati, aku pun tidak bilang apa-apa!"
Istri Ding Kelima langsung tidak terima, "Apa maksudmu kami ambil banyak dan kau sedikit? Bulan lalu saat kau mengambil dua kali daging di rumah Kakak Sulung, Kakak Sulung bahkan memberimu dua potong tulang tambahan, kenapa kau tidak bilang?"
Istri Ding Keenam pun tidak mau kalah, "Benar! Kakak Ipar Ketiga, setiap kali ke pasar kau selalu membawa Ding Baozhu. Setiap kali pula Kakak Sulung memberinya tiga keping tembaga untuk membeli kue, itu Ding Baozhu sendiri yang bilang, jangan pikir kami tidak tahu!"
Mendengar ketiga adik iparnya saling membongkar aib, tangan Ibu Ding mulai gemetar. Ternyata suaminya, tanpa sepengetahuannya, diam-diam memberikan daging kepada keluarga saudara-saudaranya setiap kali ke pasar.
Ia merasa selama ini pendapatan keluarga cukup baik, tetapi mengapa uangnya tidak pernah tersisa. Dengan setiap pekan ada saudara yang datang mengambil daging secara cuma-cuma, bisa makan kenyang saja sudah untung.
Ia merasa telah menjadi menantu dan kakak ipar yang baik. Sejak dulu, karena yatim piatu dan tidak ada yang menyayangi, setelah menikah dengan Ding Dazhuang, ia mencurahkan seluruh hatinya untuk keluarga Ding. Selama bertahun-tahun, meski tahu saudara-saudara suaminya menghisap darah keluarganya, ia tetap bersabar karena teringat kebaikan mertuanya dulu. Tak disangka, ternyata mereka meminjam uang di depannya, namun di belakangnya malah pergi meminta daging pada Ding Dazhuang.
"Ding Dazhuang, kau keparat!"
Ibu Ding meraung marah, melepaskan cengkeraman Istri Ding Ketiga, lalu berlari secepat kilat ke tempat pemotongan babi dan mengambil sebilah pisau jagal.
"Ibu!"
Istri Ding Sulung ketakutan setengah mati, ia maju dan memeluk lengan Ibu Ding. "Ibu, tenanglah, tunggu Ayah pulang dan kita tanya baik-baik."
"Tanya apa lagi? Ding Dazhuang hebat sekali, berani-beraninya dia mengirim daging ke keluarga saudara-saudaranya di setiap pekan di belakangku. Sialan, apa dia pikir aku ini orang yang bisa ditindas? Jika hari ini aku tidak menebas Ding Dazhuang, namaku bukan bermarga Jiang!"
"Bukan hanya Ding Dazhuang yang akan kutebas, aku akan menebas semua orang dari keluarga Ding yang tidak tahu malu ini! Supaya mereka tidak merusak kita dan anak cucuku nanti. Bahkan saudara kandung pun tidak seharusnya datang mengambil daging setiap pekan!"
Teriakan Ibu Ding makin meninggi. Ia meronta lepas dari pelukan Istri Ding Sulung dan mengayunkan pisau ke arah Paman Ding Ketiga. Karena Istri Ding Sulung menarik lengannya, ayunan pisau itu hanya lewat di samping telinga Paman Ding Ketiga.
Kilatan pisau itu membuat Paman Ding Ketiga menjerit ketakutan dan langsung kabur keluar pintu.
"Pak Tua!"
Melihat suaminya keluar, Istri Ding Ketiga segera menarik cucunya dan berlari keluar. Kakak iparnya benar-benar sedang mengamuk! Andai itu dirinya, pikir Istri Ding Ketiga, jika ada yang datang meminjam uang dan meminta daging, ia pun akan menebas seluruh keluarga mereka.
Istri Ding Sulung memeluk erat lengan Ibu Ding, berteriak panik, "Adik Ipar Kedua, Adik Ipar Ketiga, kenapa masih melongo? Cepat bantu!"
Istri Ding Kedua baru bergegas maju memeluk lengan Ibu Ding yang lain sambil berteriak, "Ibu, Ibu! Saat menebas orang, tolong perhatikan baik-baik, jangan sampai melukai keluarga sendiri. Bibi Kelima dan Bibi Keenam masih berdiri di bawah pohon delima itu!"
"Astaga..."
Begitu mendengar itu, Istri Ding Keenam ketakutan setengah mati. Ia berlari ke pintu, saat menoleh melihat Istri Ding Kelima masih melamun di bawah pohon delima, akhirnya nuraninya terusik. Ia berteriak, "Li Er Ya, lari!"
Kalau tidak lari, apa mau menunggu mati?
Tak lama kemudian, Paman Ding Ketiga beserta istri dan cucunya, serta dua adik ipar lainnya sudah lari keluar dari rumah keluarga Ding tanpa jejak.
Istri Ding Kedua melepaskan pegangannya, menjenguk ke luar. Selain para tetangga yang menonton, sudah tidak ada lagi orang dari keluarga Ding. Ia pun menutup pintu sambil berseru, "Semuanya pulanglah, kalau mau menonton keributan lagi, datanglah lebih pagi lain kali!"
Setelah para tetangga bubar dan pintu tertutup, Istri Ding Kedua berlari ke samping Ibu Ding sambil mengacungkan jempol, "Ibu, kau hebat sekali, bisa membuat mereka semua ketakutan!"
"Enyah kau."
Ibu Ding memelototinya dengan kesal, lalu meletakkan pisaunya dan berdiri di halaman sambil terengah-engah. Ia merasa lelah sekali, sudah lama ia tidak mengeluarkan tenaga sebanyak ini.
Setelah kerabat keluarga Ding pergi, Lu Xiao Si juga bersiap untuk pulang. Sebelum pergi, ia tidak bisa menolak ketika Ibu Ding memaksanya membawa sebuah keranjang berisi jeroan babi yang sudah dicuci bersih dan dibungkus daun teratai.
Ibu Ding dengan hangat mengantar Lu Xiao Si ke depan pintu, terus berpesan dengan sikap yang sama sekali tidak terlihat seperti wanita yang baru saja mengamuk dengan pisau.
"Setelah makan siang nanti, aku akan menyuruh pamanmu mencari ayahmu untuk menjual keledai itu, jangan sampai lupa ya."
"Katakan pada ibumu, setelah panen nanti, aku akan membawa kakak-kakakmu untuk membantu."
"Hati-hati di jalan, kalau ingin makan daging, datang saja ke kota untuk mengambilnya!"
"Baik, aku mengerti!" jawab Lu Yaoduo sambil menoleh dan melambaikan tangan.
Setelah keluar dari rumah keluarga Ding, berjalan sekitar seratus langkah, ia berbelok ke gang lain. Lu Yaoduo menenteng keranjang berisi jeroan babi, ia menunggu sampai Ibu Ding masuk ke dalam rumah sebelum perlahan berbelok di ujung gang.
Di balik tembok halaman seberang gang, seorang pemuda berbaju hitam sedang bersandar di tembok, menatap ke arah gang dengan tatapan kosong.