Bab 84: Sekolah Privat
Saat Lu Quan masuk, dia sama sekali tidak merasa ada yang aneh. Ia sudah berunding dengan Ny. Qiu untuk mengirim Si Empat belajar ke sekolah.
Ny. Qiu berpikir lebih jauh dibandingkan Lu Quan. Si Empat adalah anak kesayangan Tuan Besar Lu, dan pasti Tuan Lu pernah memanggil guru untuk mengajarinya. Kalau tidak, mana mungkin ia sudah bisa membaca dan berhitung. Kalau mereka tak mampu mengundang guru ke rumah, lebih baik mengirimkan Si Empat ke sekolah selama dua tahun. Itu masih lebih baik daripada menjadi orang yang buta huruf seumur hidup seperti mereka.
Beberapa tahun lagi, jika Si Empat sudah besar dan pergaulan laki-laki dan perempuan mulai dibatasi, barulah ia tinggal di rumah untuk membentuk wataknya.
Mendengar Lu Quan bersedia mengirim Si Empat ke sekolah, hati Pengelola Li pun menjadi tenang. Sepuluh tahun ia tinggal di Bendungan Keluarga Jiang, ia memang tidak benar-benar dekat dengan para guru di sekitar, tapi ia tahu cukup banyak soal mereka.
Ia segera menyarankan, kalau memang ingin menyekolahkan Si Empat, tentu saja harus ke Sekolah Qingshan. Saat ini ia juga belum pergi, jadi masih bisa membantu menguruskan.
Memang ada beberapa sekolah di Bendungan Keluarga Jiang, tapi Pengelola Li sama sekali tidak tertarik. Sekolah Qingshan adalah yang paling unggul di sekitar sini, begitu terkenal hingga banyak pelajar dari Kota Huai dan Daerah Dongyang datang menuntut ilmu di sana.
Satu-satunya kekurangannya, sekolah itu agak jauh dari Bendungan Keluarga Jiang, naik perahu air butuh kira-kira setengah jam.
“Setengah jam, tidak jauh, tidak jauh,” kata Lu Quan. “Aku pernah menjala ikan di sana, airnya dalam dan ikannya banyak, kapal yang lewat pun jarang, hasilnya lumayan. Nanti sekalian mengantar dan menjemput Si Empat, aku bisa turun menjala dan mengumpulkan ikan, tidak akan mengganggu.”
“Ayah...” Lu Yaoge melihat Lu Quan langsung setuju tanpa ragu, buru-buru berkata, “Anak masih kecil, sebaiknya tahun pertama belajar di sekolah di Bendungan Keluarga Jiang dulu. Setelah bisa membaca lebih banyak huruf, baru masuk Sekolah Qingshan.”
Ia hanya perlu tak ada yang mempermasalahkan dirinya belajar membaca, bukan benar-benar ingin mengejar gelar. Untuk apa ke Sekolah Qingshan segala. Apalagi, bentar lagi pasukan Bayangan Merah akan menyerbu setelah panen musim gugur. Ia sendiri ingin menghindar, mana mungkin menaruh diri di bawah hidung orang banyak.
Lu Quan memang bukan orang yang punya pendirian kuat. Mendengar ucapan Lu Yaoge, ia pun ragu, “Kalau begitu, bagaimana kalau dua tahun di sini dulu?”
Pertanyaan itu ditujukan pada Pengelola Li. Karena Pengelola Li sangat merekomendasikan Sekolah Qingshan, pasti sekolah itu sangat baik. Kalau ia menolak terus, rasanya seperti menampar muka Pengelola Li.
Namun rupanya Pengelola Li sudah terbiasa ditolak. Kali ini, Si Empat tidak mau ke Sekolah Qingshan, ia sama sekali tidak merasa keberatan.
“Kalau begitu, cari saja sekolah di Bendungan Keluarga Jiang,” kata Pengelola Li, setelah berpikir sejenak, lalu menjelaskan pada Lu dan anaknya, “Ada tiga sekolah di sini. Satu milik Guru Liu di dekat pintu air, satu lagi Guru Dong di tengah kota dekat Apotek Keluarga Xie, dan satu lagi juga bermarga Dong, dulu dijalankan guru tua, tapi beliau sudah meninggal dua tahun lalu. Sekarang anaknya yang mengelola, tapi ia sendiri belum lulus ujian, jadi sambil belajar, sambil mengajar beberapa anak untuk makan sehari-hari.”
Lu Quan buru-buru bertanya, “Kalau menurut Anda, Si Empat sebaiknya ke mana?”
Ia memang benar-benar tidak paham, untungnya ia sadar diri. Kalau tidak tahu, lebih baik bertanya.
Untung Pengelola Li orang yang ramah!
“Jangan ke rumah Dong yang muda itu. Ia sudah beberapa tahun ikut ujian, tak pernah lulus. Ilmu yang bisa diajarkan pada Si Empat terbatas. Guru Liu orangnya kaku, banyak aturan, dan pemilih dalam menerima murid. Guru Dong masih muda, jujur dan ilmunya bagus, hanya saja ia mungkin masih akan ikut ujian lagi, jadi takutnya kurang fokus mengajar.”
Itulah kenapa Pengelola Li awalnya ingin mengirim Si Empat ke Sekolah Qingshan. Di sana ada kelas untuk anak-anak pemula, Si Empat bisa masuk kelas itu. Setelah bisa membaca banyak, bisa lanjut ke kelas remaja.
Sebelum Lu Quan sempat menimbang-nimbang, Lu Yaoge langsung berkata lantang, “Aku ke rumah Guru Dong saja.”
Saat ia dan Dong Yong sibuk mewarnai kain, ia pernah dengar Dong Yong bercerita, dulu ia belajar di sekolah Guru Dong. Jangan lihat waktu ayah dan kakak Dong Yong masih ada, dia suka nakal, tapi ilmu yang didapat sangat kuat. Kalau saja keluarga Dong tidak kena musibah, Dong Yong pasti sudah lulus ujian pemula.
Menurut Dong Yong, Guru Liu itu sudah sering gagal ujian, tabiatnya aneh, dan suka menghukum murid dengan memukul telapak tangan.
Yang lebih parah, alat pemukulnya harus disiapkan sendiri oleh murid. Misal, ia bilang ke seorang murid, “Pulanglah dan pilih sebatang bambu sepanjang ini untukku, mau kubuat tongkat pengajar, pilih yang dekat akar bambu, dan harus ada sisa akarnya.”
Kenapa harus dekat akar? Tentu saja karena lebih kuat dan tahan lama. Murid itu pun pulang dengan gembira, memilih sebatang bambu yang tak terlalu besar, enak dipegang, dan sesuai permintaan. Ia mengira, gurunya menyuruh memilih karena suka padanya.
Tak disangka-sangka, bambu itu kemudian jadi alat pemukul khusus untuk dirinya. Kalau sampai pecah, harus buat baru, dan tidak boleh lebih jelek dari sebelumnya.
Kata Dong Yong, di sekolah Guru Liu satu dinding penuh digantung bermacam-macam tongkat pengajar, ada yang dari bambu, kayu urat sapi, batang lilin putih...
Yang paling hebat, anak tukang besi membawa tongkat buatan ayahnya sendiri. Tongkat itu dipakai sejak masa anak tukang besi hingga cucunya, sudah tergantung di sekolah Guru Liu lebih dari dua puluh tahun!
Lu Yaoge jelas tak mau membawa tongkat sendiri, lalu diwariskan ke Si Lima setelahnya. Yang terpenting, ia hanya ingin mengatasi masalah buta huruf, bukan ingin dihukum.
Ketat atau tidaknya guru tidak penting, yang penting tidak boleh main tangan.
Mendengar alasan Lu Yaoge tidak mau ke Guru Liu karena takut dipukul, Pengelola Li yang tadinya sering merasa dipersulit oleh keluarga Lu, tak tahan tertawa terbahak-bahak.
“Mana ada belajar tanpa pernah kena pukul guru?”
Mungkin khawatir Si Empat jadi takut sekolah, Pengelola Li buru-buru menambahkan, “Tentu saja, Si Empat sepandai ini, guru pasti suka dan tak akan tega memukul.”
Lu Yaoge: "... Sampai aku hampir percaya."
Tapi ucapan Pengelola Li itu membuat Lu Quan senang, hingga wajahnya berseri-seri dan terus mengangguk. Selama ada yang memuji Si Empat, Lu Quan merasa dirinya sudah cukup membuktikan pada Tuan Lu, ia membesarkan anak ini dengan baik, setidaknya tidak mengecewakan.
Pengelola Li juga tak merasa ada masalah jika ke Guru Dong. Si Empat tak mau ke Sekolah Qingshan, pilih Guru Dong atau Guru Liu baginya sama saja.
Guru Dong masih muda, umur tiga puluhan, sudah beberapa tahun membuka sekolah, reputasinya baik. Tapi kalau ditanya, sudah berapa muridnya yang lulus ujian, mungkin satu pun belum ada.
Bendungan Keluarga Jiang memang kota kecil, apalagi letaknya strategis di pintu air, banyak pedagang dari utara dan selatan, orang luar yang buka toko pun lebih banyak dibanding tempat lain. Tapi tetap saja, ini desa kecil, selama bertahun-tahun hanya sedikit yang bisa menjadi sarjana.
Kebanyakan anak-anak pergi ke sekolah hanya karena keluarganya cukup berada, punya sawah dan toko. Tujuannya sekadar belajar membaca dan berhitung, supaya bisa melanjutkan usaha keluarga. Soal bisa lulus ujian dan dapat gelar, hanya sedikit yang berani bermimpi.
“Kalau kau memang ingin ke Guru Dong, ya ke Guru Dong saja. Aturannya tidak seketat Guru Liu, asal anaknya tidak nakal, pasti diterima,” kata Pengelola Li, lalu menasihati Si Empat, “Tapi sementara ini jangan dulu masuk, tunggu setelah panen musim gugur. Kalau pasukan pemberontak...”
(Bersambung)